ROCKOMOTIF, Jakarta – Mobil berjenis Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) selama ini diposisikan sebagai jembatan ideal dalam masa transisi dari kendaraan bermesin bensin konvensional menuju era kendaraan listrik sepenuhnya.
Kendaraan ini menawarkan perpaduan antara mesin pembakaran internal (ICE) dan motor listrik yang ditenagai baterai, yang secara teoritis menjanjikan efisiensi bahan bakar yang luar biasa, emisi gas buang yang lebih rendah, serta kepraktisan jarak tempuh yang lebih jauh.
Namun, sebuah laporan terbaru dari lembaga riset ternama, Consumer Reports (CR), justru mengungkap fakta mengejutkan mengenai tingkat keandalan kendaraan jenis ini yang ternyata jauh dari ekspektasi awal para konsumen.
Hasil survei keandalan terbaru menunjukkan sebuah anomali besar di mana mobil PHEV secara umum memiliki tingkat masalah sekitar 80% lebih banyak jika kita bandingkan dengan model kendaraan konvensional berbasis bensin.
Baca juga: Jaecoo Resmi Umumkan Harga J8 ARDIS dan J8 PHEV, Mulai Rp 600 Jutaan!
Consumer Reports mengumpulkan data dari respons sekitar 380.000 pemilik kendaraan di Amerika Serikat, yang mencakup rentang model produksi dari tahun 2000 hingga 2025, bahkan termasuk beberapa lini model awal untuk tahun 2026. Data masif ini memberikan gambaran yang sangat akurat mengenai performa jangka panjang dari berbagai jenis teknologi mesin yang beredar di pasar saat ini.
Keandalan yang rendah pada model PHEV ini menjadi sorotan utama karena konsumen biasanya mengharapkan teknologi yang lebih canggih juga membawa ketahanan yang lebih baik.
Dalam analisisnya, Consumer Reports membedah berbagai kategori gangguan yang dilaporkan oleh para pemilik kendaraan, mulai dari kegagalan sistem kelistrikan yang rumit, masalah pada sel baterai EV, kendala pada sistem pengisian daya, hingga gangguan pada komponen mekanis mendasar seperti sistem suspensi dan kemudi.
Baca juga: Wuling Darion EV Dijual Mulai Rp 356 Juta, PHEV Lebih Mahal
Tingginya angka keluhan ini menempatkan PHEV sebagai kategori kendaraan dengan risiko gangguan paling tinggi dibandingkan dengan mobil listrik murni (BEV) maupun mobil hibrida standar (HEV).
Kompleksitas Teknologi sebagai Akar Permasalahan Utama
Penyebab utama dari rendahnya tingkat keandalan PHEV terletak pada kompleksitas sistem yang diusungnya. Berbeda dengan mobil bensin yang hanya memiliki satu sistem penggerak atau mobil listrik yang sangat sederhana secara mekanis, PHEV menggabungkan dua ekosistem teknologi yang sangat berbeda dalam satu ruang kendaraan.
Mesin bensin dan motor listrik harus bekerja secara sinergis melalui sistem manajemen energi yang sangat rumit, yang secara otomatis menambah titik kegagalan (point of failure) pada kendaraan. Ketika sebuah mobil memiliki lebih banyak komponen yang saling bergantung, maka potensi terjadinya kerusakan pada salah satu bagian yang berdampak pada keseluruhan sistem menjadi jauh lebih besar.
Para pemilik melaporkan bahwa gangguan sering kali muncul pada titik temu antara sistem penggerak listrik dan mesin bensin. Masalah ini mencakup kegagalan perangkat lunak yang mengatur peralihan daya hingga kerusakan pada sistem pendinginan yang harus bekerja ekstra keras untuk mendinginkan mesin pembakaran sekaligus paket baterai bertegangan tinggi.
Baca juga: SUV Hybrid Konsep Chery X Debut Perdana di GJAW 2025
Hal ini mengindikasikan bahwa integrasi dua teknologi yang berbeda memerlukan kematangan desain yang lebih tinggi, yang tampaknya belum sepenuhnya tercapai oleh banyak produsen otomotif global saat ini.
Model Kendaraan dengan Laporan Masalah Terbanyak
Laporan Consumer Reports secara spesifik menyebutkan beberapa model yang menjadi penyumbang keluhan terbesar dari para penggunanya. Ford Escape PHEV menduduki peringkat atas sebagai model yang paling sering mengalami masalah, dengan keluhan yang berfokus pada kebutuhan penggantian baterai EV secara prematur, kerusakan pada sistem pendinginan baterai, serta ketidakstabilan pada sistem pengisian daya elektrik.
Masalah-masalah ini tidak hanya mengganggu operasional harian, tetapi juga menuntut biaya perbaikan yang sangat tinggi bagi para pemiliknya jika masa garansi telah habis.
Baca juga: Mazda CX-80 PHEV Mengaspal di Indonesia, Apa Istimewanya?
Selain Ford, pabrikan raksasa Stellantis juga mendapatkan sorotan tajam melalui model populernya seperti Jeep Wrangler 4xe dan Jeep Grand Cherokee 4xe.
Para pemilik kedua model ini melaporkan beragam kendala yang bersumber langsung dari sistem hibrida mereka, termasuk masalah pada motor listrik dan degradasi baterai yang lebih cepat dari perkiraan.
Munculnya masalah pada lini kendaraan sepopuler Jeep mengindikasikan bahwa bahkan produsen berpengalaman pun masih menghadapi tantangan besar dalam menyempurnakan teknologi PHEV agar memiliki daya tahan sekuat model bermesin bensin konvensional mereka.








