ROCKOMOTIF, Jakarta – Raksasa otomotif global, Stellantis, tengah menghadapi badai finansial yang cukup serius di awal tahun 2026. Induk perusahaan dari merk ikonik seperti Jeep, Fiat, Peugeot, dan Chrysler ini melaporkan kerugian fantastis yang mencapai Rp 442 triliun (sekitar 26 miliar Euro).
Angka penurunan laba bersih yang drastis ini langsung memicu spekulasi mengenai efektivitas transisi energi yang mereka jalankan.
Banyak analis menyebut bahwa percepatan strategi kendaraan listrik (EV) menjadi “kambing hitam” di balik anjloknya performa keuangan perusahaan.
Stellantis dinilai terlalu agresif dalam menggelontorkan investasi besar-besaran untuk pengembangan baterai dan platform EV, sementara permintaan pasar global justru menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Baca juga: Model Plug-in Hybrid Ternyata Memiliki Masalah 80% Lebih Banyak daripada Kendaraan Konvensional
Penyebab utama “boncos” ini ditengarai berasal dari penurunan penjualan yang signifikan di pasar Amerika Utara, yang selama ini menjadi mesin uang terbesar bagi Stellantis.
Stok kendaraan yang menumpuk di diler serta biaya insentif yang tinggi untuk menghabiskan stok mobil bensin (ICE) lama turut memperparah margin keuntungan perusahaan.
CEO Stellantis, Carlos Tavares, dalam pernyataan resminya mengakui adanya tantangan besar dalam masa transisi industri ini.
“Tahun 2025 merupakan tahun yang sangat menantang dan penuh dengan volatilitas. Meskipun hasil finansial kami saat ini mengecewakan, kami tetap berkomitmen pada rencana jangka panjang. Kami sedang melakukan penyesuaian operasional yang diperlukan di Amerika Utara untuk kembali ke jalur pertumbuhan yang sehat.”
Baca juga: Sudah Dipasarkan di Indonesia, Aspek Keselamatan Citroen e-C3 Dapat Nilai Jeblok
Menanggapi kerugian triliunan rupiah tersebut, Stellantis kini mulai mengambil langkah efisiensi ekstrem. Hal ini mencakup pemotongan biaya produksi, peninjauan ulang rantai pasok, hingga kemungkinan pengurangan tenaga kerja di beberapa wilayah operasional.
Tantangan bagi Stellantis ke depan adalah bagaimana mereka bisa menyeimbangkan antara investasi teknologi masa depan (EV) dengan realitas pasar saat ini yang masih sangat bergantung pada kendaraan hibrida dan bensin.
Publik kini menanti apakah langkah “putar balik” strategi akan dilakukan atau Stellantis tetap teguh pada ambisi elektrik mereka di tengah tekanan finansial yang kian menghimpit.








