Ini Masa Depan Bahan Bakar Solar di Indonesia

0
solar
Pemerintah berencana menggunakan solar B20 mulai 1 September 2018

ROCKOMOTIF, Jakarta – Bahan bakar solar di Indonesia ternyata punya masa depan yang panjang. Setelah belum lama ini pemerintah Indonesia mewajibkan solar B20 atau biodiesel yang menggunakan campuran minyak sawit bagi kendaraan penumpang diesel.

Tapi ternyata penyesuaian bahan bakar solar B20 ini belum menjadi solusi yang final bagi masa depan kendaraan diesel di Indonesia. Menurut Agus Saptono Kasibdit Pelayanan dan Pengawasan Usaha Dirjen EBTKE Kementerian ESDM solar B20 ini merupakan langkah awal menuju bahan bakar diesel hijau atau energi terbarukan.

Dalam roadmap yang dicanangkan oleh Kementerian ESDM, bahan bakar solar akan menggunakan B30 di tahun 2020. Jika B20 menggunakan campuran minyak sawit sebesar 20 persen, maka B30 menggunakan campuran minyak sawit sebanyak 30 persen.

“Kita sudah sosialisasi solar B20 sejak tahun 2013, dan kita juga sudah lakukan uji jalan di tahun 2014. Baru di 2016 kita implementasikan ke kendaraan PSO, dan di 2018 ini kita wajibkan untuk kendaraan non-PSO,” ujar Agus di acara Diskusi Pintar “Roadmap Kebijakan Biodisel di Indonesia” di Jakarta, Selasa (27/11).

Baca juga: Tidak Semua Mobil Diesel Ternyata Sanggup Konsumsi Solar B20

Kebijakan pemerintah melalui Kementerian ESDM ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas buang dan juga ketergantungan energi. Khususnya mengurangi impor bahan bakar fosil. Karena sejak tahun 2004 Indonesia sudah menjadi negara yang mengimpor minyak dari luar negeri.

Selain mengurangi impor minyak juga hadirnya solar B20 ini akan menghemat devisa bagi negara. Potensi penghematan devisa yang akan didapat oleh negara di tahun 2018 ini mencapai Rp 14,962 Triliun.

Dari kacamata pabrikan mobil seperti Isuzu, sebenarnya tidak ada efek negatif yang ditimbulkan dari solar B20. Hanya saja konsumen diwajibkan mengganti dilter bahan bakar secara rutin.

Sementara dari kacamata Lemigas, Cahyo Setyo Wibowo selaku Peneliti Bahan Bakar dan Teknologi Pembakaran KPPP mengatakan jika filter solar yang digunakan oleh pabrikan masih filter yang sama sebelum menggunakan B20.

“Sebenarnya tidak sulit bagi teman-teman di pabrikan, tinggal menyesuaikan saja filter bahan bakar dengan solar B20,” ujarnya.

Menyambut Euro 4 Untuk Diesel

Nah setelah B20 selanjutnya adalah B30 yang mulai diuji coba tahun 2019 mendatang. Pengujian solar B30 ini juga sama seperti B20 yang diuji sejauh 60.000 km.

Pengujian road test B30 ini meliputi aneka ragam kontur jalanan. Road test ini kemudian akan dijadikan sebagai review untuk pabrikan dalam persiapan mandatory B30.

Nantinya kehadiran solar B30 ini untuk menghadapi peraturan Euro 4 yang mulai diwajibkan bagi kendaraan diesel di Indonesia pada tahun 2021 mendatang.

Meski begitu belum ada pengujian yang konkrit mengenai kadar emisi dari solar B30. Apakah kadar emisi B30 ini mampu setara dengan standar dari emisi Euro 4 atau tidak.

Baca juga: DPP Organda Pertanyakan Kualitas Solar B20

Mengapa sawit yang dipilih oleh Indonesia sebagai campuran bahan bakar solar? Menurut Putu Julia Ardika Direktur Alat Transportasi Maritim dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian menyampaikan jika CPO atau kelapa sawit itu masa depan biodiesel kita.

“CPO itu hanya butuh sekali tanam saja dan setelah 3 tahun bisa dipanen hingga 25 tahun ke depan. Dan dengan adanya solar B20 ini bisa menstabilkan harga CPO di Indonesia,” ungkap Putu di tempat yang sama.

Bahkan masa depan bahan bakar diesel di Indonesia akan mengarah ke Bahan Bakar Nabati (BBN) di mana 100 persen menggunakan bahan alami. BBN yang juga disebut dengan Biodiesel B100 ini tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil. Hanya saja ini masih dalam tahap penelitian, entah sampai kapan.

LEAVE A REPLY