Teknologi Airbag Canggih Pada Jaket Motor, Begini Cara Kerjanya

0
teknologi airbag di jaket motor
Teknologi airbag pada jaker motor (foto/RideApart)
suzukiertigahybrid

ROCKOMOTIF, Jakarta – Teknologi semakin canggih, bahkan terlalu canggih sehingga semakin membuat para pemilik sepeda motor bisa lebih aman saat berkendara. Ancaman yang mengintai di jalan para pengendara motor terutama tipe sport memang lebih tinggi.

Tidak ada seorang pengendara motor yang ingin jatuh dan mengalami kecelakaan. Tapi lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?

Untuk itulah diciptakan airbag yang khusus bagi pengendara motor ini. Letaknya ada pada jaket riding yang menjadi perlengkapan standar para bikers ini. Airbag pada jaket motor ini adalah teknologi terbaru yang paling canggih. Adalah dua penyedia riding gear ternama yang menciptakannya, Dainese dan Alpinestars.

Baca Juga: Semakin Banyak Dan Lengkap Aksesoris Riding Dari Respiro

Sama seperti teknologi-teknologi terbaru lainnya, sistem airbag pada jaket motor ini cukup kompleks. Meski begitu, ada banyak elemen yang bisa dimengerti oleh semua orang.

Sebenarnya teknologi ini sudah dikembangkan sejak bertahun-tahun lalu. Tapi dulu, sistem airbag ini dihubungkan oleh kabel ke sepeda motor.

Nah sekarang ini tidak lagi, melainkan melalu software dengan banyak algoritma dan juga hardware yang bisa menjamin keamanan secara tepat dan efektif.

Baru Dua Produsen Riding Gear

Baik Alpinestars dan Dainese memiliki sistem yang independen, bisa digunakan pada motor apapun tanpa harus terhubung dengan motornya. Dainese menggunakan chip dan bisa mengembang lebih cepat daripada airbag dengan kabel.

Teknologi D-Air dan Tech-Air sebenarnya berbeda tapi memiliki kesamaan. Setiap sistem ini memiliki airbag di dada yang tersembunyi pada jaket yang didesain khusus. Saat terjadi kecelakaan, sistem akan mengembang lebih cepat daripada kedipan mata, dan melindungi bahu, rusuk, serta torso pengendara.

Jaket ini medeteksi sebelum terjadi kecelakaan berkat accelerometer, GPS dan beberapa gyroscope (Alpinestars ada satu dan Dainese ada tiga). Semua sensor ini terus menerus memberikan data ke komputer seribu kali per detik.

Kegunaan banyak sensor ini untuk mencegah adanya kegagalan airbag. Jika satu accelerometer mendeteksi kecelakaan sementara yang satunya tidak, airbag tidak akan mengembang. Karena teknologi ini sangat canggih, tidak akan terjadi kesalahan airbag yang tidak mengembang saat dibutuhkan.

Sementara GPS memiliki fungsi untuk mengetahui seberapa cepat motor melaju. Karena airbag hanya akan mengembang saat kecepatan mencapai dari 25-30 km/jam.

Airbag ini juga akan mengembang dengan cepat berkat material yang canggih. Sistem D-Air menggunakan microfilament yang terdiri dari jutaan filament kecil yang menghubungkan semua sisi airbag. Pada sistem D-Air ini airbag dapat mengembang dalam waktu 45 milidetik, sementara mata berkedip itu rata-rata 300-400 milidetik.

Pada Tech-Air juga ada dua, pada tipe race bisa dihubungkan ke laptop dan mengubah firmware sementara tipe street tidak bisa. Tech-Air akan memicu satu dari tabung argon dan mengisi airbag dalam waktu 45 milidetik. Jika keduanya terpicu secara bersamaan maka airbag akan mengembang dalam waktu 25 milidetik saja.

Sama seperti peralatan riding canggih lainnya, sistem airbag ini pertama dikembangkan dan digunakan pada MotoGP sebelum nantinya diproduksi massal.

Sekarang, baik Dainese dan Alpinestars sudah memiliki dua jenis, street dan race airbag. Pada versi Street fokusnya melindungi bagian dada pengendara, sementara versi race melindungi juga rusuk dan tulang bahu.

Untuk pertama kalinya di tiga kelas balap GP (MotoGP, Moto2, dan Moto3) musim ini semuanya akan diwajikan menggunakan jaket airbag ini.

suzukiertigahybrid

LEAVE A REPLY