ROCKOMOTIF, Jakarta – Suzuki tengah menyiapkan strategi besar untuk memperluas penggunaan teknologi keselamatan aktif atau Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) ke lebih banyak model, tak terkecuali mobil-mobil dengan harga terjangkau. Langkah ini menjadi bagian dari peta jalan teknologi Suzuki untuk beberapa tahun mendatang.
Pabrikan asal Jepang ini menilai bahwa teknologi keselamatan yang hanya tersedia pada mobil kelas atas akan memiliki dampak terbatas, mengingat jumlah kendaraan yang menggunakannya relatif sedikit. Karena itu, Suzuki ingin mengembangkan sistem ADAS dengan biaya lebih rendah agar dapat diterapkan pada lebih banyak model, termasuk segmen entry-level.
India menjadi salah satu pasar yang mendapat perhatian khusus dalam strategi ini. Kondisi lalu lintas dan tingkat kecelakaan yang tinggi di negara tersebut menjadi alasan penting bagi Suzuki mengembangkan sistem keselamatan yang sesuai karakteristik pasar lokal.
Melansir RushLane, data Suzuki mencatat sekitar 177.000 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di India pada 2024, angka yang cukup mengkhawatirkan dan mendorong urgensi penerapan ADAS lebih luas.
Baca juga: Suzuki Serahkan XL7 Terbaru ke Pelanggan Pertama, SPK Tembus 1.300 Unit
Dalam pengembangannya, Suzuki memprioritaskan dua fungsi keselamatan utama, yaitu pengereman darurat otomatis (Autonomous Emergency Braking/AEB) dan pencegah kendaraan keluar jalur (Lane Departure Prevention). Kedua fitur ini ditargetkan menjadi standar di berbagai model, sementara fitur bantuan mengemudi lain yang lebih berorientasi pada kenyamanan akan ditawarkan sesuai kebutuhan konsumen.
Untuk menekan biaya produksi, Suzuki juga tengah mengembangkan arsitektur ADAS yang lebih sederhana. Sistem ini mengandalkan kamera beresolusi tinggi dan chip berbasis kecerdasan buatan (AI), tanpa menggunakan radar depan yang umumnya menambah biaya produksi.
Suzuki bahkan berencana menggabungkan fungsi kamera pemantau pengemudi dan penumpang dengan sistem ADAS dalam satu unit, sehingga jumlah perangkat keras yang dibutuhkan dapat ditekan.
Langkah integrasi ini diharapkan mampu mengurangi kompleksitas sistem sekaligus menekan biaya produksi secara signifikan, sehingga teknologi keselamatan canggih tak lagi menjadi eksklusivitas mobil mahal, melainkan dapat dinikmati oleh lebih banyak konsumen di berbagai segmen harga.








