ROCKOMOTIF, Lombok – Salah satu kejutan terbesar di putaran Kejurnas ITCR 3600 Mandalika datang dari kubu Rizaiq Motorsport melalui pembalap andalannya, Apip Ginajnar.
Pembalap yang menggeber BMW E90 berkelir biru putih ini, ia sukses mengungguli pembalap tim pabrikan Honda Racing Indonesia, Alvin Bahar, pada race kedua.
Meski terlihat tampil agresif sepanjang balapan, Apip Ginanjar mengaku strategi yang diterapkan justru lebih banyak berfokus pada menjaga performa mobil hingga akhir lomba. Kondisi lintasan yang sangat panas membuat tim Razaiq Motorsport harus berpikir lebih cermat dibanding sekadar mengejar kecepatan.
“Strateginya lebih ke menjaga kondisi mesin dan keawetan ban. Suhu aspal kemarin mencapai 54,2 derajat Celsius, jadi kami harus pintar mengatur ritme balapan,” ujar Apip pada ROCKOMOTIF.COM.

Hasil positif tersebut juga tidak lepas dari sejumlah pengembangan yang dilakukan pada BMW milik Rizaiq Motorsport. Salah satu perubahan paling signifikan adalah penggunaan gearbox baru yang dinilai lebih cocok dengan karakter Sirkuit Mandalika.
“Mobil sudah mendapatkan upgrade stage 1. Yang paling terasa pengaruhnya adalah gearbox baru karena rasio giginya bisa disesuaikan dengan kebutuhan sirkuit,” jelasnya.
Meski berhasil meraih kemenangan penting, Apip menegaskan bahwa tim masih akan terus melakukan pengembangan pada mobil. Fokusnya bukan hanya mengejar tenaga, tetapi juga membuat mobil lebih nyaman dan mudah dikendalikan saat balapan.

Bicara hasil yang diraih, sepanjang 12 putaran berlangsung, Apip Ginanjar, berhasil mengukuhkan total waktu 24 menit 14,061 detik. Torehan tersebut sekaligus meninggalkan Alvin Bahar dengan gap waktu 4,095 detik.
“Kami akan terus melakukan development supaya mobil bisa lebih cepat, tapi tetap nyaman dan aman dikendarai. Jadi pembalap tidak perlu terlalu memaksakan mobil di lintasan,” tambahnya.
Menariknya, Apip justru menilai faktor terbesar yang membawanya meraih kemenangan bukan berasal dari mobil, melainkan dari kemampuannya mengendalikan diri sendiri selama balapan berlangsung.
Pasalnya pada race pertama, dirinya sempat melakukan kesalahan hingga mobil melintir dua kali. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting yang kemudian dibawa ke race kedua.

“Kunci race kedua adalah mengalahkan diri sendiri. Saya berusaha menjaga emosi dan tidak mengulangi kesalahan seperti di race pertama. Setelah itu saya bisa terus menempel Alvin Bahar dan akhirnya berhasil finis di posisi pertama overall,” ungkapnya.
Kemenangan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Rizaiq Motorsport mulai menemukan paket yang kompetitif untuk bersaing di barisan depan ITCR 3600.
Jika pengembangan BMW mereka terus berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin persaingan melawan tim-tim pabrikan akan semakin menarik pada seri-seri berikutnya. (*)








