ROCKOMOTIF, Jakarta – Pereli senior M Yassin Kosasih bersama navigatornya, Dwi Pras, harus melewati perjuangan penuh drama pada seri ketiga Kejurnas Sprint Rally 2026 yang berlangsung di Sirkuit Bhayangkara, Kejayan, Jawa Timur.
Perjuangannya tersebut tidak berjalan mulus lantaran ia harus berhadapan dengan kendala teknis pada awal balapan sebelum akhirnya mengamankan posisi kedua di Special Class FFA (SC FFA).
Masalah sudah muncul sejak Special Stage (SS) 1. Saat start, turbo Can-Am Maverick R yang dikemudikan M Yassin Kosasih sempat kehilangan boost selama sekitar lima detik sehingga lajunya tidak maksimal. Kesalahan kembali terjadi menjelang finis ketika pengereman terlalu dekat membuat mobilnya melewati titik dan harus mundur terlebih dahulu.

“Waktu SS1 pas start lima detik turbo seperti boost-nya tidak bekerja. Lima detik awal pelan, baru kencang. Menjelang finish, saya ngerem terlalu dekat, akibatnya ngegolosor dan harus mundur dulu,” ujar pereli Motu Jangkar Biru Motorsport.
M Yassin Kosasih kemudian melakukan evaluasi dan memperbaiki performanya pada SS berikutnya.
Kondisi lintasan juga menjadi tantangan tersendiri. Debu tebal yang terangkat saat mobil berbelok membuat jarak pandang menjadi terbatas. Ditambah persaingan ketat di tiga besar, Yassin menyadari bahwa konsistensi menjadi kunci.
“Persaingan sangat ketat, terutama posisi satu, dua, dan tiga. Bedanya tipis banget waktunya. Kuncinya satu, fokus dan konsisten,” katanya.
Dengan berbagai drama yang dilewati, M Yassin Kosasih sempat memperkirakan dirinya hanya mampu bertahan di posisi ketiga. Namun, hasil akhir justru lebih baik. Ia berhasil naik ke posisi kedua.

“Saya sudah bilang ke tim bahwa kita harus realistis, karena lawan yang dihadapi ini kan anak-anak muda, jadi kita sadar di posisi tiga sudah sangat baik. Tapi hasilnya berkata lain dan Alhamdulillah kita berhasil berada di podium kedua,” ucapnya.
Yassin juga mengapresiasi penyelenggaraan event di Sirkuit Kejayan yang dinilainya menjadi langkah positif bagi perkembangan olahraga otomotif di Jawa Timur.
Bagi pereli berpengalaman tersebut, podium kedua menjadi bukti bahwa dalam reli, kecepatan saja tidak cukup. Kemampuan bangkit dari kesalahan dan menjaga fokus hingga garis finis menjadi penentu. (*)








