
ROCKOMOTIF, Jakarta – Pembalap Indonesia Setiawan Santoso berhasil membawa Climax Racing meraih kemenangan pada Race 1 GT World Challenge Asia 2026 di Beijing.
Mengendarai Mercedes-AMG GT3, Setiawan mencatatkan total waktu 1:01:35.102 untuk menyelesaikan balapan.
Namun, kemenangan Setiawan Santoso ternyata tidak diraih dalam kondisi ideal.
Dia mengungkapkan mobilnya mengalami kendala pada sistem pengereman dan ABS, sehingga performa pengereman Mercedes-AMG GT3 yang dikendarainya tidak bisa bekerja secara optimal.
“Sebenarnya mobil kita sedang tidak baik-baik saja. Ada masalah di rem dan ABS-nya, jadi tidak bisa optimal performance braking-nya sehingga mesti nge-rem lebih awal dari normalnya,” ujarnya dalam pesan singkat.

Situasi balapan juga turut membuka peluang bagi Climax Racing. Sejumlah insiden kecelakaan dan pelanggaran membuat beberapa pembalap harus menerima penalti.
Kondisi tersebut membuat persaingan di depan berubah dan membantu Setiawan Santoso mempertahankan posisi hingga finis.
“Tadi banyak yang kecelakaan dan banyak yang kena penalty pelanggaran. Jadi kejadian-kejadian ini memudahkan mobil kita untuk leading sampai akhir lomba,” katanya.
Tantangan semakin besar karena sirkuit jalan raya Beijing memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sirkuit permanen. Permukaan aspal dengan grip lebih rendah serta gelombang di beberapa bagian lintasan membuat mobil lebih sulit dikendalikan, terutama ketika pengereman.
“Street circuit memang resiko tinggi karena aspal grip-nya lebih rendah dari aspal circuit yang khusus. Selain itu juga gelombang aspalnya mental-mental mobilnya, apalagi pas di braking zone memang lebih berbahaya,” jelas Setiawan Santoso.
Kemenangan di Race 1 membuat posisi pembalap asal Surabaya, Jawa Timur ini dan Climax Racing saat ini berada di posisi terdepan dalam perebutan gelar. Meski demikian, pembalap Indonesia itu menegaskan bahwa perjalanan menuju akhir musim masih panjang.
“Sementara ini leading, tapi perjalanan masih panjang,” ucapnya.

Setelah Beijing, perhatian Climax Racing akan tertuju pada Shanghai. Putaran yang sebelumnya mengalami penundaan tersebut dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober hingga awal November.
Menghadapi balapan berikutnya, Setiawan menyadari bahwa persoalan rem dan ABS menjadi pekerjaan rumah utama. Jika masalah tersebut belum terselesaikan, peluang untuk kembali meraih kemenangan akan semakin sulit.
“Kalau besok masih problem rem dan ABS-nya, kayaknya berat kesempatan untuk menangnya. Tetapi tentunya kita akan tetap berusaha semaksimal mungkin,” tutur Setiawan.
Untuk menjaga peluang di tengah persaingan ketat, strategi utama Climax Racing pun sederhana: menghindari insiden dan penalti.
“Strategi yang pasti berusaha menghindari accident dan penalty. Berusaha clean race saja,” tegasnya. (*)







